Fungsi ganda kata sebagai verba dan nomina

Pada ujian bahasa Inggris adik saya, ada satu soal yang menarik. Inti soalnya adalah menyusun kalimat dari kata-kata berikut:

cover/don’t/the/to/glue/forget

Adik saya menyusun kalimat:

Don’t forget to cover the glue.

Namun sayangnya disalahkan karena jawaban yang benar menurut gurunya adalah:

Don’t forget to glue the cover.

Kalau kita analisis lebih lanjut, sebetulnya kedua jawaban di atas sah secara tata bahasa. Ini disebabkan karena kata “cover” dan “glue” bisa berfungsi ganda yaitu sebagai verba dan nomina. “cover” sebagai verba berarti menutup suatu benda dengan benda yang lain, dan “cover” sebagai nomina berarti sampul. “glue” sebagai verba berarti mengelem, dan “glue” sebagai nomina berarti lem. Terlebih lagi, keduanya sama-sama merupakan verba transitif yang menerima objek.

Jadi, “cover the glue” dan “glue the cover” sama-sama memiliki struktur “VERBA the NOMINA”.

Bagaimana dengan semantiknya? Struktur di atas juga dimiliki frasa seperti “fold the atmosphere” dan “eat the height”, walaupun kita bertanya-tanya apa maksudnya. Tapi “cover the glue” dan “glue the cover” tidak terlalu sulit untuk dipahami. Sebagai contoh, pada “cover the glue” kita bisa membayangkan lem yang tergeletak di atas meja, dan kita menutupinya dengan kertas agar tidak terlihat misalnya.

Ini adalah salah satu aspek menarik bahasa alami yaitu ambiguitas. Pada bahasa berbeda, fenomena yang ditemui akan berbeda. Sebagai contoh, kalimat yang sama di bahasa Indonesia akan menjadi “Jangan lupa mengelem sampulnya.”, sehingga kalau dibuat soal untuk menyusun kalimat dari “mengelem/lupa/sampulnya/jangan”, bisa diharapkan bahwa jawaban dari murid-murid hanyalah satu. (”mengelem”? “melem”?)

Walaupun begitu, kalau kita berpikir lebih jauh lagi akan muncul hal-hal menarik lain. Sebagai contoh, kalau “Jangan” adalah nama orang maka “Jangan lupa mengelem sampulnya” bisa diinterpretasikan dengan arti yang benar-benar beda (”Si Jangan lupa mengelem sampulnya”). Di sini, “jangan” kita pahami sebagai nomina. Lalu, kalau kita asumsikan “Lupa” juga nama orang, maka “Lupa mengelem sampulnya Jangan” tentu juga kalimat lengkap yang sah (”Si Lupa mengelem sampulnya Si Jangan”).

Dalam bidang pemrosesan bahasa alami, kita harus berurusan dengan banyak ambiguitas seperti ini. Kalau guru yang manusia saja bisa gagal mengenali bahwa kalimat yang dibuat adik saya adalah kalimat valid, bisa dibayangkan repotnya sistem komputer yang harus berurusan dengan hal ini.

Simpan di situs bookmarking sosial:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Technorati
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Sphinn
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis
  • Live

Tags: , , , ,

Leave a Reply