Frasa verba atau nomina? Anomali frasa nomina di bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki konstruksi frasa yang secara struktural sama dengan frasa verba namun bisa berfungsi sebagai frasa nomina. Contohnya, frasa “makan malam” secara struktur sama dengan frasa verba “makan ikan”, dan memang bisa digunakan begitu sebagaimana pada kalimat “Kemarin saya makan malam.” Tapi frasa tersebut juga bisa bertindak sebagai nomina, yang di bahasa Inggris adalah “dinner”, sebagaimana pada kalimat “Makan malamnya sangat sederhana.” Menggunakan tata bahasa pada umumnya untuk mengubah verba ke nomina, seharusnya bentuknya adalah “makanan malam”.

Contoh lain adalah “korek kuping” yang memang merupakan frasa verba pada kalimat seperti “Korek kuping dulu sana!” Tapi artinya juga bisa nomina yang di bahasa Inggris adalah “cotton buds”, sebagaimana pada kalimat “Korek kupingnya gede-gede.” Yang dipakai bukan “pengorek kuping”.

Jika kita membolehkan konstruksi ini digunakan secara umum, maka kita akan punya “jaga gawang” dan bukannya “penjaga gawang”, “bunuh berantai” untuk “pembunuh berantai”, dan “masak Jepang” untuk “masakan Jepang”. Tidakkah kamu pikir itu ide yang cukup menarik? Kita bisa menghemat penulisan penominalisasi seperti “pe-” (tarik -> penarik) dan “-an” (makan -> makanan) :).

- Oleh Agro, tulis utama di Agronesia.

Simpan di situs bookmarking sosial:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Technorati
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Sphinn
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis
  • Live

Tags: , , , ,

Leave a Reply